Lima Wajah Baru Masuk Kabinet
Selasa, 18 Oktober 2011 | 10:06 WIB
0 Komentar
E-mail Cetak PDF
JAKARTA - Teki-teki bagaimana hasil reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid dua mulai terjawab. Sejumlah nama baru hampir dipastikan menghiasi wajah kabinet untuk sisa tiga tahun pemerintahan SBY - Boediono.
Kemarin (17/1), enam orang proyeksi menteri dan anggota kabinet memenuhi panggilan Presiden SBY di kantor presiden. Mereka adalah Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) Gita Wirjawan yang diberi tugas baru sebagai Menteri Perdagangan, Dirut PLN Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN, dan Amir Syamsuddin yang diproyeksi sebagai Menteri Hukum dan HAM. Kemudian Azwar Abubakar ditunjuk sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Djan Faridz sebagai Menteri Perumahan Rakyat, dan Letjen Marciano Norman dipercaya menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).
Jumlah wajah baru di kabinet atau menteri yang digeser dipastikan masih akan bertambah. Sore ini, seusai menghadiri pernikahan putri Sultan Hamengkubuwono X di Jogjakarta, SBY kembali memanggil mereka yang akan menjadi pembantunya di kabinet.
“Besok (Selasa, 18/10) pemanggilan calon menteri berlanjut,” kata juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha. Malam ini, rencananya SBY akan mengumumkan hasil kocok ulang kabinetnya itu.
Jika menilik pada calon menteri yang sudah dipanggil, masih ada beberapa pos yang masih lowong. Antara lain pos Kementerian ESDM dan Kementerian Perhubungan yang saat ini dipegang Darwin Zahedy Saleh dan Freddy Numberi. Dua kader Partai Demokrat itu santer bakal didepak, apalagi setelah tidak ikut dipanggil SBY ke kediaman pribadinya, Puri Cikeas, Bogor.
Pos ESDM dikabarkan akan diisi sesama kader Demokrat, yakni Syarif Hasan yang saat ini menjabat Menkop dan UKM. Syarif memang dikenal punya pengalaman di bidang pertambangan. Kader Demokrat lain, Men PAN dan RB EE Mangindaan juga akan mengalami pergeseran posisi.
Pemanggilan calon menteri juga berkaitan dengan komposisi jatah dua parpol mitra koalisi, yakni Partai Golkar dan PKS. Golkar yang saat ini mendapatkan jatah tiga kursi, sudah mengajukan Sharif Cicip Sutardjo untuk masuk kabinet. Sementara informasi yang diperoleh, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata yang kader PKS dikabarkan kena reshuffle. Jika benar, jatah PKS yang empat kursi akan berkurang satu. Selain itu, menteri representasi dari Indonesia Timur (Papua) juga belum terisi kalau Freddy benar keluar dari kabinet.
Sementara itu, hari ini, lima calon menteri plus satu kepala BIN yang sudah dipanggil SBY akan menjalani tes kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Tes itulah yang membuat beberapa calon belum berani sesumbar hingga melewati tes dan dilantik sebagai anggota kabinet.
“Sebetulnya masih ada satu tahapan lagi sebelum kami secara resmi (dilantik). Jadi belum bisa saya optimistis memastikan bahwa saya akan berlanjut,” kata Amir Syamsuddin yang diproyeksi sebagai Menkum HAM di kantor presiden.
Hal senada juga dikatakan Dahlan Iskan yang akan menjabat sebagai menteri BUMN. Dia bahkan menuturkan menangis jika harus meninggalkan PLN saat ini. “Karena sekarang ini teman-teman PLN di seluruh Indonesia lagi semangat-semangatnya untuk bekerja mengubah PLN,” katanya.
Dahlan tampak sesenggukan saat berbicara. “Presiden menugaskan saya sebagai Menteri BUMN, kalau lulus tes kesehatan. Karena seperti saudara tahu, saya orang sakit, belum tentu lulus tes kesehatan,” tuturnya.
Sementara empat calon lainnya, yakni Gita Wirjawan, Azwar Abubakar, Djan Faridz, dan Marciano Norman, tidak menyinggung soal tes kesehatan itu dan mengaku siap menerima dan menjalankan tugas yang diberikan presiden.
Penunjukan Amir Syamsuddin sebagai Menkum HAM otomatis menggusur posisi Patrialis Akbar. Mengetahui hal itu, kemarin, politisi PAN ini langsung mengumpulkan seluruh pejabat eselon I di kantornya. Dia berpesan agar semua pegawai Kemenkum HAM tetap bekerja seperti biasa dan memberikan yang terbaik untuk pelayanan masyarakat. Patrialis juga menyinggung pos Wakil Menkum HAM yang dinilainya akan sangat membantu.
Kepada wartawan yang menunggui sebelum dia pulang kerja, Patrialis tidak bisa menyembunyikan kesedihannya meski awalnya tampak cengar-cengir. Matanya berkaca-kaca. Dia menceritakan, Minggu pukul 23.30 WIB, dirinya mendapat telepon dari Sudi. “Pak Sudi bilang ke saya dengan berat hati bahwa saya menteri yang selesai melaksanakan tugas,” katanya.
Patrialis kaget. Dia langsung menanyakan apakah dirinya memiliki kesalahan selama menjalankan tugas sebagai menteri. Sudi cepat-cepat menjawab bahwa dirinya sama sekali tidak melakukan kesalahan. Mendapat jawaban itu, Patrialis merasa lega. “Awalnya pembicaraan kami kaku, tapi karena saya lapang dada dan menerima semuanya, suasana mencair,” imbuh pria asal Padang itu.
Dia lalu mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada presiden. Di mata Patrialis, Presiden SBY adalah sosok presiden yang terbaik lantaran tiada henti terus memberikan pengarahan kepada para menteri untuk bekerja dengan baik. Patrialis pun menilai bahwa penggantinya, Amir Syamsudin adalah orang yang berkompeten dan layak menjadi Menkum HAM. “Dia senior dan sahabat saya,” kata dia.
Sementara itu, Partai Demokrat menyambut baik terpilihnya Amir sebagai salah satu menteri pilihan Presiden. Wasekjen DPP Partai Demokrat Saan Mustopa menyatakan, terpilihnya Amir tidak akan memengaruhi proses saat rapat kerja di DPR. Apalagi, Amir sebagai Menkum HAM akan berhubungan dengan Komisi III DPR, tempat dia bertugas. “Kami tentu tidak masalah, tugas sebagai menteri dan Sekretaris Dewan Kehormatan tentu berbeda,” kata Saan di gedung parlemen, kemarin.
Meski berasal dari Demokrat, Saan yakin bahwa Amir akan bekerja secara profesional. Pengalamnnya sebagai pengacara senior membuktikan dedikasinya untuk profesi tetap berjalan, meski sebagai politisi. “Saya pikir tidak ada persoalan, selama ini beliau profesional,” lanjutnya.
Terpilihnya Amir, ujar Saan sudah melalui mekanisme di majelis tinggi. Saat ini, dikabarkan sejumlah pos menteri dari Demokrat seperti Kementrian ESDM dan Kementrian Perhubungan berpotensi diganti. Saan mengaku tidak tahu siapa calon menteri yang masuk di dua pos tersebut. “Itu yang tahu majelis tinggi,” ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar